Bagai Kerapu di Atas Batu

Surandal merupakan seorang manajer di sebuah perusahaan kecil di Jakarta. Meskipun kecil, Surandal bisa menafkahi keluarganya cukup dengan gaji bulanannya saja. Keluarga Surandal merupakan keluarga kecil jadi hal ini bukanlah sesuatu yang berat baginya.

Sumber: Google Image

Pada suatu hari Surandal membawa istrinya pergi ke sebuah supermarket di bilangan Pluit, Jakarta Utara untuk berbelanja. Kedua anaknya yang masih kecil pun diajaknya pula.

Di supermarket yang dimaksud, Surandal hanya melihat-lihat barang yang dipajang di etalase-etalase kios yang ada. Lain halnya dengan Surandal, istri Surandal membeli beberapa potong baju dan tas merk Gucci impiannya. Sementara anak lelaki Surandal yang sudah berumur 17 tahun hanya membeli sepasang sandal jepit karena tidak tahu harus membeli apa lagi karena barang-barang kebutuhannya masih ada. Anni, anak terkecil Surandal hanya membeli es krim merk Magnum di mart lantai dasar supermarket yang dikunjungi oleh Surandal sekeluarga tersebut di atas.

Selama di supermarket, anak laki-laki pertama surandal sibuk mengupdate blog pribadi miliknya yang dibuatnya di Tumblr.

Malangnya, sepulang dari supermarket mobil Surandal menabrak sebuah sepeda motor yang melintas cepat didepan mobilnya. Sepeda motor tersebut jatuh sementara pengemudinya terlempar hampir sejauh 3 meteran. Lebih sialnya lagi pengemudi sepeda motor tersebut tidak mengenakan helm. Akhirnya pengemudi sepeda motor tersebut di atas dibawa ke rumah sakit terdekat oleh Surandal.

Surandal mengeluarkan banyak sekali uang untuk membayar biaya pengobatan pengemudi sepeda motor yang ditabraknya tersebut di atas, termasuk juga biaya perbaikan sepeda motornya. Tabungan Surandal habis sehingga terpaksalah Surandal mengeluarkan kartu kreditnya. 3 buah kartu kredit Surandal akhirnya terkuras habis hingga mencapai limit untuk menutupi biaya-biaya yang harus dikeluarkannya.

Semuanya sudah selesai, Surandal sudah kembali ke rumah beserta seluruh keluarganya. Sementara itu pengemudi sepeda motor yang ditabraknya masih menginap dirumah sakit dan ditunggui oleh istrinya yang setia. Semua ini telah membuat hati Surandal tenang.

Namun demikian, Surandal menjadi pening kepalanya karena tidak punya uang sama sekali untuk menghidupi keluarganya sementara gajian masih lama. Pun, selepas gajian Surandal masih harus membayar angsuran semua kartu kreditnya dimana jumlahnya tidak bisa dibilang kecil karena kartu kredit-kartu kredit milik Surandal limitnya besar-besar. Dengan kondisi yang seperti ini, utang Surandal menjadi sebesar gunung.

Satu-satunya jalan, pikir Surandal, aku harus menukar mobilku dengan motor dan menggunakan selisihnya untuk membayar hutang-hutangku.

Tidak bisa begitu, lanjut Surandal dalam benaknya. Mendingan aku mengambil kasbon untuk menutupi hutang kartu kredit-kartu kredit miliknya. Namun demikian, hidupku pasti akan sulit sekali karena harus menanggung yang berlarut-larut. Tapi ini lebih baik daripada aku tidak punya mobil, istri dan anak-anakku akan membenciku karena jadi tidak bisa berjalan-jalan lagi.

Demikianlah, akhirnya Surandal menjalani hidupnya dengan payah karena melakukan kesalahan yang tidak disengajanya, menabrak seorang pengemudi sepeda motor yang tidak mengenakan helm.